Kamis, 18 April 2013

KesMen Tulisan5


Pengertian Stress
Arti Penting Stress

Definisi stress yang sering dipakai ialah dari Hans Selye, MD. Dia ini bisa disebut sebagai “Bapak” penelitian tentang stress. Pada tahun 1956 dia mengatakan kalau “Stress is the non-spesific response of the body and any demand” (Stress ialah “respon tidak spesifik tubuh terhadap berbagai tuntutan”).
Kalau kita terus mengikuti logika Hans Selye, MD. Maka dia mengenal adanya 2 macam stress yaitu:
·         Eustress= stress yang positif dan kuratif (menyembuhkan)
·         Distress=stress yang tidak menyenangkan dan bisa menimbulkan penyakit.
Sekali lagi bagi Hans selye yang menjadi masalah ialah stress yang berlebihan (excersive stress) yang dia sebut sebagai distress tersebut.

(Sumber: Christian, M. 2005. Jinakkan Stress. Bandung: Nexx Media)

Hans Selye pada tahun 1936 tentang “General Adaptation Syndrome (GAS) (Bieliauskas, 1982; Leventhal, 1993; Helman, 1990; Taylor, 1991, dll). Menurutnya, ketika organisme berhadapan dengan stressor, dia akan mendorong dirinya sendiri untuk melakukan tindakan. Usaha ini diatur oleh kelenjar adrenal yang menaikkan aktivitas syaraf sympatetik. Tanpa memperhatikan penyebab dari ancaman, individu akan merespon dengan pola reaksi fisiologis yang sama (non-spesific response). Selebihnya hingga mengulangi atau memperpanjang stress, sehingga akan melicinkan dan mematahkan sistem (wear and tear of the system) (Taylor, 1991). Meskipun banyak keterbatasan dan keberatan, sampai saat ini model yang dikembangkan oleh Selye ini menjadi dasar dalam membahas masalah stress.

Sarafino (1990) mendefinisikan stress sebagai “Suatu kondisi disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber-sumber daya sistem biologis, psikologis, dan sosial dari seseorang”.

(Sumber: Smet, Bart. 1994. Psikologi kesehatan. Jakarta: Gramedia)

General Adaption Syndrome (GAS)
Terbagi atas tiga fase, yaitu:

Fase Alarm ( Waspada)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis “fight or flight” dan reaksi fisiologis. Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stress memengaruhi denyut nadi, ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun.
Fase alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan “ respons melawan atau menghindar “. Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.

Fase Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress.
Bila teratasi gejala stress menurun àtau normal, tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel – sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS yaitu : Fase kehabisan tenaga.

Fase Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk mepertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersebut.


Faktor-faktor Individual dan Sosial yang menjadi Penyebab Stress

Stress sebagai interaksi antara individu dengan lingkungannya
       Pendekatan ketiga menggambarkan stress sebagai sutu proses yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antar individu dengan lingkungannya. Interaksi antara manusia dengan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional (Van Broeck, 1979; Sutherland & Cooper, 1990; Sarafino, 1990). Didalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian. Disini stress bukan hanya suatu stimulus atau sebuah respon saja tetapi juga suatu proses dimana seseorang adalah pengantara (agent) yang aktif dapat mempengaruhi stressor melalui strategi-strategi perilaku, koqnitif dan emosional. 

Sumber-sumber Stress
Sarafino (1990) membedakan sumber-sumber stress yaitu dalam diri individu, keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Sumber-sumber stress di dalam diri seseorang
     Kadang-kadang sumber stress itu ada di dalam diri seseorang. Salah satunya melalui kesakitan. Tingkatan stress yang muncul tergantung pada keadaan rasa sakit dan umur individ (Sarafino, 1990). Stress juga akan muncul dalam seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional yang melawan, bila seseorang mengalami konflik. Konflik merupakan sumber stress yang paling utama. Menurut Kurt Lewin, kekuatan motivasional yang melawan menyebabkan dua cenderungan yang melawan: pendekatan dan penghindaran. Cenderungan tersebut menggolongkan tiga jenis pokok dari konflik: konflik pendekatan-pendekatan, konflik penhindaran-penghindaran, konflik pendekatan-penghindaran.

Sumber-sumber stress di dalam keluarga
    Stress disini dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga, seperti; perselisihan dalam masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda, dll. 

Sumber-sumber stress di dalam komunitas dan lingkungan
       Interaksi subyek di luar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber stress. Contohnya; pengalaman stress anak-anak di sekolah dan di beberapa kejadian kompetitif, seperti olah raga. Sedangkan beberapa pengalaman stress orang tua bersumber dari pekerjaannya dan lingkungan yang stressful sifatnya. Khususnya “occupational stress” telah diteliti secara luas.

Stress yang berasal dari lingkungan
      Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan fisik seperti; kebisingan, suhu yang terlalu panas, kesesakan, angin badai (tornado, tsunami). Stressor lingkungan mencakup stressor secara makro seperti migrasi, kerugian akibat teknologi modern seperti kecelakaan lalu lintas, bencana nuklir (Peterson dkk, 1991) dan faktor sekolah (Graham, 1989).

(Sumber: Smet, Bart. 1994. Psikologi kesehatan. Jakarta: Gramedia)

                Tipe-Tipe Stress
  
Tekanan-Konflik
 Tekanan Kita dapat mengalami tekanan dari dalam maupun luar diri, atau keduanya. Ambisi personal bersumber dari dalam tetapi kadang dikuatkan oleh harapan-harapan dari pihak di luar diri.
Konflik
·                           Konflik terjadi ketika kita berada di bawah tekanan untuk berespon simultan terhadap dua atau lebih kekuatan-kekuatan yang berlawanan.
·         Konflik menjauh-menjauh : individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama tidak disukai.
·         Konflik mendekat-mendekat: individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama diinginkan.
·                  Konflik mendekat-menjauh: terjadi ketika individu terjerat dalam situasi dimana ia tertarik sekaligus ingin menghindar dari situasi. Ini adalah bentuk konflik yang paling sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari sekaligus sulit untuk diselesaikan.

Frustasi-Kecemasan
Frustasi
Frustasi terjadi ketika motif atau tujuan kita mengalami hambatan dalam pencapaiannya. Bila kita telah berjuang keras dan tetapi kita gagal, bila kita dalam keadaan terdesak dan terburu-buru kemudian terhambat untuk melakukan sesuatu, bila kita sangat memerlukan sesuatu dan sesuatu itu tidak dapat diperoleh, maka kita juga akan mengalami frustasi.


 Kecemasan
merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress kadang dengan disertai kemunculan kecemasan. Namun kecemasan itu dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan.

Kecemasan dapat muncul pada situasi tertentu seperti berbicara didepan umum, tekanan pekerjaan yang tinggi, menghadapi ujian. Situasi-situasi tersebut dapat memicu munculnya kecemasan bahkan rasa takut. Namun, gangguan kecemasan muncul bila rasa cemas tersebut terus berlangsung lama, terjadi perubahan perilaku.

Gangguan kecemasan diperkirakan diidap 1 dari 10 orang. Menurut data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut. Ahli psikoanalisa beranggapan bahwa penyebab kecemasan neurotik dengan memasukan persepsi diri sendiri, dimana individu beranggapan bahwa dirinya dalam ketidakberdayaan, tidak mampu mengatasi masalah, rasa takut akan perpisahan, terabaikan dan sebagai bentuk penolakan dari orang yang dicintainya. Perasaan-perasaan tersebut terletak dalam pikiran bawah sadar yang tidak disadari oleh individu.

Pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik dan tujuan penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut sama-sama mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber kecemasan mereka.

Kategori gangguan kecemasan menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorsers (DSM) IV:
yang sering dibahas diantaranya adalah:
  1. Gangguan panik tanpa agoraphobia 
  2. Gangguan panik dengan agoraphobia
  3. Agoraphobia tanpa riwayat gangguan panic
  4. Phobia spesifik
  5. Phobia social
  6. Gangguan obsesif-kompulsif
  7. Gangguan stres pasca traumatic
  8. Gangguan stres akut
  9. Gangguan kecemasan umum
  10. Gangguan kecemasan yang tidak terdefinisi

Pendekatan problem solving terhadap stress

Strategi coping yang spontan mengatasi stress
Taylor (1991) mengemukakan 8 strategi coping yang berbeda: (a) Konfrontasi, (b) mencari dukungan sosial, (c) merencanakan pemecahan masalah dikaitkan dengan ‘problem-focused coping’. Strategi coping lainnya memfokuskan pada pengaturan emosi: (d) kontrol diri, (e) membuat jarak, (f) penilaian kembali secara positif (positive reappraisal), (g) menerima tanggung jawab dan (h) lari/penghindaran (escape/avoidance) (Taylor, 1991). Tetapi penelitian lainnya menetapkan jumlah dan jenis strategi coping yang berbeda. Contohnya, Cohen & Lazarus (1983) memberikan 5 cara coping, Vingerhoets dkk. (1990) 7 cara dan Sarafino (1990) mengidentifikasi 6 cara coping. Carver, Scheier dkk bahkan memberikan 13 skala yang berbeda (Eiser, 1990).
Perlu diketahui, bahwa tidak ada satu pun metode yang dapat digunakan untuk semua situasi stress. Tidak ada strategi coping yang paling berhasil. Strategi coping yang paling efektif adalah strategi yang sesuai dengan jenis stress dan situasi (Rutter, 1983). Keberhasilan coping lebih tergantung pada penggabungan strategi coping yang sesuai dengan ciri masing-masing kejadian yang penuh stress, dari pada mencoba menemukan satu strategi coping yang paling berhasil (Taylor, 1991).

(Sumber: Smet, Bart. 1994. Psikologi kesehatan. Jakarta: Gramedia)

Jumat, 12 April 2013

KesMen Tulisan4

TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Allport “Ciri-Ciri Kepribadian yang Matang”

 Tujuh Kriteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat.

1. Perluasan Perasaan Diri

Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula diri hanya berpusat hanya pada individu. Kemudian ketika lingkaran pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Dengan kata lain, ketika orang menjadi matang dia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Akan tetapi tidak cukup hanya berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri seperti pekerjaan. Orang harus menjadi menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamai hal ini “partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas.

Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang atau ide, maka semakin juga dia akan sehat secara psikologis. Perasaan partisipasi otentik ini berlaku pada pekerjaan kita, hubungan dengan keluarga, dan teman-teman, kegemaran, dan keanggotaan kita dalam politik dan agama. Diri menjadi tertanam dalam aktivitas-aktivitas yang dipenuhi arti ini dan aktivitas-aktivitas ini menjadi perluasan perasaan diri.

2. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain

Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orang tua, anak, partner, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang biak. Syarat lain bagi kapasitas untuk keintiman ialah suatu perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik.
Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Sebagai hasil dari kapasitas untuk perasaan terharu, kepribadian yang matang sabar terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya. Orang yang sehat menerima kelemahan-kelemahan yang sama.

3. Keamanan Emosional 

Sifat dari kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas-kualitas utama adalah penerimaan diri. Kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi dari ada mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan dan kekurangan tersebut. Orang yang sehat mampu hidup dengan segi-segi lain dalam kodrat manusia, dengan sedikit konflik dalam diri mereka atau dengan masyarakat. Mereka berusaha bekerja sebaik mungkin dan dalam proses mereka berusaha memperbaiki diri mereka.

Kepribadian-kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi-emosi manusia, mereka bukan tawanan dari emosi mereka dan mereka juga berusaha tidak bersembunyi dari emosi-emosi itu. Kepribadian yang sehat mengontrol emosi mereka sehingga emosi tidak mengganggu aktivitas-aktivitas antarpribadi. Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa yang disebut Allport “sabar terhadap kekecewaan”. Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan dari kemauan dan keinginan. Orang-orang yang sehat sabar menghadapi kemunduran, mereka tidak menyerah diri kepada kekecewaan, tetapi mampu memikirkan cara-cara yang bebeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama atau tujuan subtitusi. Orang yang matang tidak dapat begitu sabar terhadap kekecewaan tidak dapat begitu menerima diri atau tidak dapat begitu banyak mengontrol emosi mereka, jika mereka merasakan suatu perasaan dasar akan keamanan.

4. Persepsi Realistis

Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.

5. Keterampilan-Keterampilan dan Tugas

Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri di dalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan keterampilan dan bakat tertentu suatu tingkat kemampuan. Tetapi tidaklah cukup hanya memiliki keterampilan yang relevan, kita harus menggunakan keterampilan itu secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukan dengan dedikasi, komitmen dan keterampilan-keterampilan.

6. Pemahaman diri

Usaha untuk memahami diri secara obyektif mulai pada awal kehidupan dan tidak akan pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat pemahaman diri (self-objectification) tertentu yang berguna dalam setiap usia. Tentunya kepribadian yang sehat akan mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis.

Orang yang memiliki tingkat pemahaman diri yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain. Biasanya orang seperti ini akan diterima dengan lebih baik oleh orang lain. Allport mengatakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.

7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan

Orang yang sehat tentunya akan melihat ke depan, yang didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Menurut Allport, dorongan yang mempersatukan adalah arah (directness), dan lebih terlihat pada kepribadian yang sehat daripada orang yang neorotis. Arah akan membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan serta memberikan seseorang alasan untuk hidup.

Kerangka untuk tujuan khusus itu adalah ide tentang nilai-nilai. Menurut Allport nilai-nilai sangat penting bagi perkembangan suatu filsafah hidup yang mempersatukan. Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafah hidup yang mempersatukan. Allport berpendapat bahwa, terdapat perbedaan antara suara hati yang matang dan suara hati yang tida matang atau neurotis. Suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan kepada orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau etis, sedangkan suara hati yang tidak matang sama seperti sura hati anak-anak yang patuh, penuh dengan pembatasan dan larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak kedalam masa dewasa.
 (Sumber: Schultz, Duane. 1991. Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius)

Rogers “Perkembangan Kepribadian”

 Dalam masa kecil, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua yang lain-lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Dengan kata lain anak itu mengembangkan suatu “pengertian diri” (self concept). Dengan mengamati dari orang-orang lain terhadap tingkahnya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola gambaran-gambaran diri yang konsisten. Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebutkan kebutuhan ini “penghargaan positif” (positive regard). 

Positive regard, suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes dimiliki semua manusia, setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih sayang, cinta dan persetujuan dari orang-orang lain, tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Apakah anak itu kemudian akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh manakah kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik. 

Self concept yang berkembang dari anak itu sangat dipengaruhi ibu, anak itu menjadi peka terhadap setiap tanda penolakan dan segera mulai merencanakan tingkah lakunya menurut reaksi yang diharapkan akan diberikan. Dalam hal ini anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari orang-orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Karena dia telah merasa kecewa, maka kebutuhan akan positive regard yang sekarang bertambah kuat, makin lama makin mengerahkan energi dan pikiran.

Anak dalam situasi ini mengembangkan apa yang disebut Rogers “penghargaan positif bersyarat” (conditional positive regard). Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Karena anak mengembangkan conditional positive regard maka dia menginternalisasikan sikap-sikap ibu. Jika itu terjadi, maka sikap ibu diambil alih oleh anak itu dan diterapkan kepada dirinya.

Karena individu ini tidak dapat berinteraksi sepenuhnya dan terbuka dengan lingkungan mereka, maka mereka mengembangkan apa yang disebut Rogers “ketidakharmonisan” (incongruence) antara konsep diri dan kenyataan yang mengintari mereka. Mereka tidak dapat mengaktualisasikan semua segi dari diri. Dengan kata lain, mereka tidak dapat mengembangkan kepribadian-kepribadian yang sehat. 

Syarat utama bagi timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan “penghargaan positif tanpa syarat” (unconditional positive regard) pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih yang diberikan dengan bebas ini, dan sikap yang ditampilkannya bagi anak itu menjadi sekumpulan norma dan standar yang terinternalisasikan, sama seperti halnya sikap-sikap ibu yang memperlihatkan unconditional positive regard diinternalisasikan oleh anaknya.
(Sumber: Schultz, Duane. 1991. Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius)

Erich Fromm “Ciri-Ciri Kepribadian Sehat”

Fromm memberikan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat. Orang yang demikian mencapai sepenuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara objektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan berakar di dunia, subjek atau pelaku dari diri dan nasib, bebas dari ikatan-ikatan sumbang.

Fromm menyebutkan kepribadian yang sehat: orientasi produktif, yakni suatu konsep yang serupa dengan kepribadian matang dari Allport, dan orang yang mengaktualisasi dari dari Maslow. Konsep itu menggunakan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi”, Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri. Menjadi produktif berarti orang menggunakan semua tenaga dan potensinya.

Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang dimaksud Fromm dengan orientasi produktif. Keempat segi tambahan itu adalah cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagiaan, dan suara hati.

·         Cinta yang produktif, suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner-partner dapat mempertahankan individualitas mereka.

·         Pikiran yang produktif, meliputi kecerdasan, pertimbangan dan objektivitas. Pemikir produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pikran produktif  berfokus pada seluruh gejala dengan mempelajarinya dan bukan pada kepingan-kepingan dan potongan-potongan gejala yang terpisah.


·         Kebahagiaan merupakan suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif, kebahagiaan itu menyertai seluruh kegiatan produktif.

·         Fromm membedakan dua tipe suara hati yakni suara hati otoriter dan suara hati humanistik. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang terinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Penguasa itu dapat berupa orang tua, negara, suara kelompok lainnya yang mengatur tingkah laku melalui ketakutan orang itu terhadap hukuman karena melanggar kode moral dari penguasa. Suara hati humanistik ialah suara dari diri dan bukan suatu perantara dari luar.

·         Orientasi produktif ialah suatu keadaan ideal atau tujuan perkembangan manusia dan belum pernah dicapai dalam masyarakat manapun.
Selain orientasi produktif yang dikemukakan oleh Fromm juga terdapat orientasi-orientasi tidak produktif: orientasi reseptif, eksploitatif, penimbunan, dan pemasaran. Seperti orientasi produktif, orientasi tidak produktif ialah ciri pembawaan yang esensial, cara-cara bagaimana orang mengarahkan dirinya ke dunia sekitarnya.

·         Orang dengan orientasi reseptif merupakan penerima-penerima yang pasif dalam hubungannya dengan orang-orang lain. Mereka tidak mampu menghasilkan, menciptakan atau memberi cinta. Mereka sama sekali tergantung pada sumber-sumber dari luar, teman-teman, atau masyarakat untuk segala sesuatu yang mereka butuhkan.

·         Orientasi eksploitatif juga mereupakan ciri orang-orang yang diatur oleh sumber-sumber dari luar. Akan tetapi bukannya menunggu menerima dari orang-orang lain, mereka terdorong untuk mengambil dari mereka dengan kekerasan atau tipu muslihat atau dengan cara apa saja yang bermanfaat.

·         Orang-orang dengan orientasi penimbunan tidak mengharapkan sesuatu dari sumber-sumber dari luar, dan juga tidak menerima atau mengambil. Orang-orang ini mencapai keamanan dengan menabung atau menimbun milik-milik material, pikiran-pikiran, atau emosi-emosi. Semua segi dari orang-orang ini menjadi milik privat tidak boleh dibagi atau diberikan kepada orang lain.

·         Orientasi pemasaran merupakan ciri pembawaan utama dalam masyarakat kapitalis, seperti Amerika serikat.  Kepribadian atau diri dinilai hanya sebagai suatu barang dagangan yang dijual atau ditukar untuk keberhasilan. Perasaan kita akan penghargaan, penilaian dan kebanggaan tergantung pada bagaimana keberhasilan kita dalam menjual diri kita.

·         Fromm telah mengutarakan juga suatu pasangan kelima orientasi tidak produktif. Orientasi nekrofili dan orientasi biofili. Orientasi nekrofili menggambarkan seseorang yang dihantui oleh sakit dan kematian. Orientasi biofili, suatu orientasi yang lebih produktif dan menggambarkan seseorang yang selalu berjuang melawan kematian dan kehancuran serta yang memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan diri.
(Sumber: Schultz, Duane. 1991. Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius)

Maslow “Hirarki Kebutuhan”


1.       Kebutuhan Faali yang diperlukan untuk mempertahankan hidup seperti zat asam, air, makanan, minuman, udara.
2.       Kebutuhan keamanan. Kita perlu merasa bebas dari ancaman terhadap hidup kita, seperti kebutuhan akan keakraban, keteraturan, dan mempunyai rumah tempat tinggal.
3.      Kebutuhan akan belonging dan cinta. Semua orang ingin merasakan bahwa mereka tergolong pada sesuatu dan bahwa paling tidak satu orang mencintai/menyayanginya.
4.      Kebutuhan akan penghargaan dan harga diri. Kita perlu merasa bahwa kita berharga dan mampu, dan bahwa masyarakat menghargai sumbangan kita terhadapnya.
5.      Kebutuhan aktualisasi/ perwujudan diri. Kebutuhan akan pengembangan dan perwujudan potensi kita sepenuhnya, termasuk imajinasi dan kreativitas.
(Sumber: Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta)